Vries Jumpa Jin Kon; Siapkan Lima Orang yang Mohon Dibaptis Anut Iman Katolik

Juli 31, 2022
Last Updated


[Foto: Borneo Almanak & Sumbangan Gereja Kalimantan]

KALIMANTAN
yang masih dilingkupi oleh hutan belantara dan dilingkari sungai-sungai seperti ular yang meliuk-liukkan tubuhnya di pohon, dihuni binatang buas, dan liar serta manusia-manusia yang masih jauh dari modernitas. Kondisi itu tidak menyurutkan semangat Pater Sanders, periode 1851-1853, mengadakan turne di Borneo Barat dan Borneo Timur (Kalbar dan Kaltim) untuk mencari tempat misi yang baik.


Pada 1853, Vikaris Apostolik Batavia mendirikan Stasi Sungai Saelan di Bangka. Sekali waktu kalau ada pasukan VOC yang mengadakan perjalanan ke Kalimantan Barat, biasanya ikut serta juga seorang pastor. Pada tahun 1862 sampai 1876, daerah pantai Barat Borneo resmi dilayani oleh Vikariat Batavia.


Saat itu, Pastor Sanders Van Der Griten, yang bertugas di Vikaris Batavia tahun 1862, mengunjungi beberapa daerah Dayak di Kalimantan Barat.


Pastor Griten biasanya ikut berlayar dengan pasukan VOC ke daerah Borneo. Dia mulai melakukan pelayaran dari Batavia menuju Pontianak kemudian menyusuri sungai Kapuas. Tiga hari dalam perjalanan, ia singgah di Sanggau, lalu melanjutkan perjalanan ke Sekadau dan ke Sintang.


Baca Ini: Menguak Jejak Misi Katolik di Bumi Borneo


Di Sintang, Griten kagum menyaksikan keindahan alam yang luar biasa. Ia melihat pertemuan Sungai Melawi dan Sungai Kapuas. Ia bertemu dengan empat kebudayaan: Dayak, Melayu, Tionghoa, dan Belanda.


Namun ia menyadari bahwa sebagian orang Dayak sudah meninggalkan daerah ini, maka ia melanjutkan perjalanan ke Semitau dan Putussibau untuk mengunjungi suku Punan. Selama enam minggu, ia melakukan perjalanan dan observasi bagian utara Sintang. Setelah itu, ia berlayar kembali ke Batavia.

 

Dari hasil kunjungan ke daerah-daerah Kalbar tersebut, Griten melaporkan potensi besar memulai menetapkan pusat misi di Kalimantan. Namun karena kurangnya tenaga maka misi belum dapat dimulai. Walaupun misi belum mulai menetap, untuk secara berkala Pater De Vries SJ (Serikat Jesuit) yang bertugas di Sungai Selan mulai mengunjungi Singkawang pada 1865.

 

Dalam kunjungan tersebut, De Vries bertemu Ku Jin Kon, seorang Tionghoa penganut Katolik. Jin Kon telah dibaptis di Singapura atau di Penang. Jin Kon telah mempersiapkan lima orang yang memohon diri untuk permandian menjadi penganut iman Katolik.

 

Pada 1868, tiga tahun kemudian, Pater Langenhoff mengutus Lie Tjang, seorang guru agama dari stasi Sungai Selan di Bang­ka untuk membantu umat Katolik sekaligus menghimpun informasi terkiat situasi di Singkawang.

 

Pada Mei 1871, Pastor J. Timmermans, Pr melakukan turne ke Singkawang dan Monterado. Pada tahun 1872, Timmermans mengunjungi Kalimantan Barat lagi dan ditemani seorang pekerja di Bangka bernama Petrus Chang.

 

 

Penulis: Br. Kris Tampajara MTB

Editor: Budi Atemba

Selengkapnya